TENTANG BAPAK

Posted: Maret 12, 2011 in Uncategorized
Tag:

1 Waktuku kecil, mati lampu bukan hal yang membosankan, karena kemudian bapak akan menyuruh aku dan saudara-saudaraku tidur berjejer. Dalam gelap beliau akan menceritakan dongeng buat kami. Cerita favoritku,, “Tuaq Tetontel-Tontel kance Tuaq Tegodek-Godek” (Si Katak dan Si Monyet). Sudah berkali-kali aku mendengar kisah itu, tapi kalo aku minta bapak menceritakannya lagi,, beliau gak akan bisa menolak.
2 Kalo nonton, aku suka tertidur di depan tivi. Kalo sudah begitu,, bapak akan menggendongku masuk ke kamar. Sebenarnya,, aku seringnya pura-pura tidur biar bisa digendong bapak..😀
3 Memancing adalah hobi berat bapak. Aku sering diajak bapak mancing ikan atau udang ke tempat-tempat yang lumayan jauh dari rumah. Sampainya di tempat mancing, aku bukannya mancing tapi malah berenang! Bapak tidak akan melarangku. Beliau cuma akan bilang, “Aneh kendeq ngonong leq deket renggaeng,, laun takut mangan mpak!. Translate,, ”Berenangnya jangan di dekat kail,, nanti ikannya gak mau makan!”
4 Kao (Kerbau) adalah julukan untuk sepeda motor Honda GL100 keluaran tahun 86 yang biasa dikendarai bapak. Kalo bepergian sama bapak aku selalu minta duduk di depan,, di tangki motornya. Soalnya kadang bapak memberiku kesempatan memegang kendali stang motor; beliau yang jaga keseimbangan. Dalam hati, aku bilang, “Hei semua,, akulah Eman si pembalap cilik!”😀
5 Di bulan puasa, bapak yang kebagian membuat minuman untuk berbuka. Berita buruknya,, bapak suka bereksperimen. Bapak pernah mencampur es campur yang dibeli di pinggir jalan (air gula + aroma vanili) dengan air kelapa, sirup orange dan pemanis buatan. Rasanya? Gak ngerti,, aku gak pernah mau minum..
6 Minuman favorit bapak, tak lain dan tak bukan,, kopi! Sejak penyakit jantung bapak mulai ketahuan, Inaq suka ngomel-ngomel kalau bapak minta dibuatkan kopi. Kalau sudah begitu, siapa saja yang datang ke rumah akan diminta untuk membuatkan kopi. Begitu disodorkan, bapak akan berdoa buat orang yang membuatkan, ”Alhamdulilah,, mudah-mudahan selamat dunia akhirat..”
7 Bapak seorang pemabuk. Suruh beliau memilih antara naik BMW atau Mercedez Benz, bapak akan memilih naik motor saja. Ya,, naik mobil adalah pantangan buatnya, bawaannya mual, pusing dan muntah. Tapi pernah juga aku liat bapak naik mobil dan tidak mabuk. Waktu itu mau mengantar Bapak Tung (pamanku, adiknya bapak) ke pelabuhan Lembar karena mau pulang ke Sulawesi. Mobilnya pick up open cap, itu pun bapak berdiri..
8 Sebagai motivasi belajar anak-anaknya, bapak suka berjanji,, setiap nilai 8 di raport akan dihargai limaratus perak,, kalo dapat nilai 9 akan dihargai seribu. Bukannya mo sombong, he he,, tapi waktu itu kebanyakan nilaiku memang 8 dan 9. Pembayarannya?? Kebanyakan diutang!
9 Walau bapak adalah guru Matematika, aku lemah di pelajaran itu. Kalo ada materi yang tidak bisa aku mengerti di sekolah, kadang aku minta bapak untuk mengajariku di rumah,, dan aku tetap tidak mengerti!
10 Waktu aku SMA, setiap malam Seninnya bapak mengantarku kembali ke tempat kost dari rumah. Pernah suatu malam, hujan deras mengguyur di tengah perjalanan. Aku mengajak bapak untuk kembali saja, tapi bapak memilih untuk melanjutkan, bapak tidak mau aku telat besok paginya. Aku berlindung di balik badan bapak yang basah kuyup. Sesampai di kost, bapak hanya bersalaman trus langsung pulang menerobos hujan yang masih deras. I can never forget that moment deh…
11 Bagi bapak, pendidikan di atas segala-galanya. Prinsip bapak, “Walaupun aku sampai harus menjual baju yang melekat di tubuhku, anak-anakku harus tetap sekolah.”
12 Pembicaraan dengan bapak yang paling ku ingat adalah waktu aku tanya, “Orang seperti apa sih yang patut untuk kita hormati?”. Bapak kemudian menjawab, “Hormatilah orang bukan karena usianya yang lebih tua darimu, apalagi karena hartanya, melainkan karena kebaikan yang dia tunjukkan dan kebajikan yang dia ajarkan kepadamu.”
13 Bapak disuruh bersekolah lagi agar punya kesempatan jadi kepala sekolah, tapi bapak menolak. Beliau bilang, “Aku takut kepada uang..”
14 Aku mengingat cuma tiga kali saja aku pernah mencium bapak sepanjang hidupku. Pertama, di sepanjang perjalanan dalam ambulance; waktu bapak dirujuk dari Puskesmas ke Rumah Sakit, dan tahu bapak akan sulit untuk diselamatkan. Yang kedua waktu jasad bapak disemayamkan di rumah, masih mencoba membuat diriku sendiri percaya bahwa itu semua cuma mimpi buruk. Ketiga, setelah jasad bapak selesai dimandikan, dan kami diharuskan untuk menerima kenyataan bahwa bapak tidak akan pernah kembali,,, untuk selamanya…

*wanna write more items,, tapi,,, hiks… Love you dad,, tanpamu, hidup kami tak akan pernah sama lagi,, tapi semua didikan dan kenangan tentangmu akan selalu hidup dalam jiwa anak-anakmu…

MENGHITUNG HARGA NAFAS

Posted: Februari 16, 2011 in Kisah Motivasi
Tag:

Bernafas, mungkin sudah dianggap biasa dan tak lagi menarik dibahas oleh sebagian orang. Pasalnya, sejak bangun tidur sampai terlelap, manusia tak lepas darikegiatan mengambil udara di alam bebas ini. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana nikmat Allah ini
sebenarnya bernilai miliaran rupiah? Tak perlu menghitung kegiatan bernafas secara keseluruhan yang melibatkan berbagai organ tubuh, cukup kiranya menjumlah rupiah dari setiap udara yang dihirup.
Sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bila per orang bernafas 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara.
Lalu, berapa nilai tersebut bila dirupiahkan? Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas semisal Oksigen dan Nitrogen. Keduanya, berturut-turut 20% dan 79% mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa Nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter Oksigen dan 11.376 liter Nitrogen.
Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp. 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter, data nilai tukar dollar Bank Indonesia pada 9 November 2009), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp. 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti
setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.
Itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bila dihitung seluruh kebutuhan seumur hidup, pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak
terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernafas setiap saatnya.
Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman
Allah, “katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…”(QS Al Anbiyaa’ 21: 42).

Oleh : Syaefudin (Dept. Biokimia FMIPA,IPB)
Artikel di kutip dari http://www.hidayatullah.com

KAMU KAPAN??

Posted: Oktober 8, 2010 in Ngalur Ngidul
Tag:

Ada adik sepupu yang mau nikah, dalam dua minggu ke depan orang-orang akan ramai membicarakan persiapan pernikahan. Biasanya,, ini akan jadi saat-saat yang menyebalkan buat saya, karena begitu melihat batang hidung saya,, lidah orang-orang tua sepertinya selalu terangsang untuk berkata, “Kamu kapan nyusul??” Ingin rasanya hadir di satu acara pemakaman dengan orang-orang yang sama, saya mau tanya juga ke mereka,, “Kapan nyusul??”🙂

Dulu pertanyaan seperti itu bisa saya tanggapi dengan wajar, saya menganggap itu adalah bentuk perhatian mereka terhadap saya. Tapi seiring usia saya yang mungkin menurut mereka sudah hampir melewati “ambang wajar”, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi tampak sebagai wujud kekhawatiran mereka. Ya,, mereka khawatir saya gak laku-lakuuu!! Come on people,, im not that bad.. Mungkin di mata mereke saya memang terlihat agak sedikit santai, tapi santai bukan berarti gak bergerak kan? Bukankah pada zaman perjuangan kemerdekaan dulu juga dikenal istilah gerilya; teknik berperang yang tidak selalu terlihat, tapi ampuh dan mematikan. Anggaplah saya sedang melakukan itu, he he..

Saya tidak berniat menunda-nunda,, karena sebenarnya secara mental saya merasa sudah siap untuk itu. Saya juga tidak mengkhawatirkan masalah rezeki. Saya percaya pada adanya “rezeki khusus” bagi orang-orang yang menikah karena itu adalah janji Allah bagi hamba-hambaNya. Permasalahan yang sebenarnya adalah,, untuk menemukan siapa si gadis paling beruntung di muka bumi itu yang berhak untuk mendapatkan saya sebagai pendamping hidupnya,, uhuiyyy!!

Apakah saya pemilih? Ya,, mungkin bisa dibilang begitu. Memilih pasangan hidup adalah keputusan terbesar yang harus saya ambil dalam hidup saya, karena inilah yang akan menentukan kualitas hidup saya sesudah ini. Tapi saya tidak mau dianggap terlalu mencari sosok yang sempurna, kalau saya benar seperti itu maka saya adalah orang tidak tahu diri. Memangnya siapa saya mau mencari sosok yang sempurna,, karena saya sadar betul bahwa saya adalah manusia yang sangat sangat sangat sangaaaaat jauh dari kesempurnaan.

Tujuan saya bukan menemukan wanita bergelar master atau doktor untuk membuat undangan pernikahan saya terlihat keren; bukan wanita mapan untuk menjamin ekonomi keluarga saya nantinya; bukan juga wanita cantik untuk saya pamerkan di acara reuni atau arisan. Yang saya butuhkan adalah wanita yang beriman dan terjaga masa mudanya, yang percaya kepada saya untuk saya imami, mampu mengerti keadaan dan lingkungan saya, juga bersedia untuk berbagi kehidupan dengan saya di sepanjang sisa hidupnya.

Ya, saya adalah tipe orang yang menganggap bahwa pernikahan itu sakral, hanya terjadi sekali seumur hidup, 2 insan yang terikat di dalamnya hanya bisa dipisahkan oleh maut, seperti itulah yang dicontohkan oleh bapak dan inaq saya. Sekali salah pilih, there will be no second chance,, dan saya tidak mau jadi contoh orang yang tidak ikhlas menjalani sisa hidup hanya gara-gara tergesa-gesa mengambil keputusan di saat yang tidak tepat.

Well,, jujur,, sebenarnya saya juga menanyakan hal yang sama, dan bukan main-main, saya bertanya langsung ke Sang Sumber Jawaban atas segala pertanyaan.

Saya bilang gini, “Ya Allah, kepada siapakah tulang rusukku kau titipkan? Dan kapankah dia akan mengembalikannya??”

Sayangnya sampe sekarang Allah belum mau jawab,, ngintip contekan pun gak boleh. Satu-satunya yang bisa dilakukan ya,, menunggu sambil terus berusaha hingga saat itu tiba…

Jadi, untuk orang-orang yang selama ini  sibuk mendorong saya agar “lebih cepat”, maaf,, I’ve made my own word about this, tapi saran dari anda sekalian tetap ditampung kok.. O iya, mengenai pertanyaan di pemakaman itu,, maafkanlah,, itu cuma bercanda. Dijamin saya gak bakalan berani nanya begitu, takut kualat,, takut kena tabok juga.. 😉

SEPAK BOLA

Posted: Oktober 6, 2010 in Ngalur Ngidul
Tag:

Huffffth… Hujan lagi hujan lagi.. Ya,, saya memang agak menggerutu waktu mengucapkan itu. Bukan,, saya bukannya tidak mensyukuri apa yang telah dihadiahkan langit bagi bumi. Saya tahu di luar sana banyak petani yang mengucapkan syukur atas aliran air tiada surut untuk tanaman kesayangan di sawah mereka. Hanya saja, perut saya ini lho,, mulai berlipat-lipat,, bentuknya sudah tidak seseksi dulu lagi…🙂

Lhoh,, memang ada hubungannya, perut sama hujan!!?? So pasti ada donk.. Hujan membuat lapangan becek,, teman-teman maen bola saya malas kalau harus lari-larian di atas rumput yang licin.. Kalau hujan lapangan jadi sepi, saya gak mungkin donk ngejar-ngejar bola sendirian di situ,, bisa-bisa dikirain …..!! Naah,, berhubung tidak ada teman maen karena hujan yang hampir tiap hari, saya jadi kurang gerak, karbohidrat dalam tubuh tidak terpakai,, dan lemak menumpuk karena tidak diolah menjadi energi,, lalu terciptalah perut yang bentuknya gak karuan ini…😦

Trus kenapa tidak mencoba olahraga lain, yang tidak terpengaruh sama cuaca, dan tidak membutuhkan teman main?? Well, sepakbola sudah terlanjur menjadi standar saya dalam menilai tingkat kenikmatan yang saya dapatkan dari sebuah olahraga,, dan sejauh ini belum ada olahraga lain yang bisa membuat saya terbang melayang di awang-awang seperti yang dilakukan sepakbola terhadap saya (maaf,, agak lebai🙂 ,).

Banyak orang-orang yang tanya ke saya,, “Apa sih enaknya maen bola?. Setiap abis maen bola tingkahmu kayak orang paling capek di dunia, pulang-pulangnya jalanmu pincang karena kakimu keseleo lah, memar lah, lecet lah. Trus bajumu kotor minta ampun,, n,, (sniff sniff) kamu bau!!”. Ada lagi nih yang lebih ekstrim, dia bilang gini, “Sepakbola itu mainan orang gila,, bola cuman satu tapi direbutin 22 orang. Udah capek ngejar bolanya,, begitu dapet,, eeeh, dikasi lagi ke orang! Apa gak gila tuh..!” Hrmfffh,, saya menyebutnya pelecehan!! :@ . Oke,, masalah capek, emang iya banget. Cedera ringan,, kadang-kadang.. Baju kotor,, tak terhindarkan. Bau,, mmmm, itu setengah benar😉 .. Tapi soal gila,, dasar yang ngomong aja yang gak ngerti. Tapi kalau pun benar,, saya tidak mau berhenti jadi orang gila, hue he he… Hmmmm,, mudah-mudahan saja besok tidak hujan… ^_^

DUA PULUH DELAPAN

Posted: September 25, 2010 in Ngalur Ngidul
Tag:

dua puluh delapanKalau diingat-ingat, rasanya belum terlalu lama sejak terakhir kali saya bermain kelereng, gasing, bersepeda keliling kampung dan mandi di kali bersama teman-teman masa kecil; nyolong kelapa muda dan mangga milik bapak kost bareng teman sekost waktu SMA; nongkrong di kantin, parkiran dan perpustakaan semasa kuliah; dehidrasi dan kelaparan di sawah dan oven ketika bekerja di perusahaan tembakau; menangis, menyesal, marah ketika bapak harus pulang menemui Khaliknya di saat banyak orang masih membutuhkan kehadirannya. Rasanya seperti kemarin.. Ya,, waktu berjalan lebih cepat dari yang saya duga. Hidup itu singkat. Saya mulai merasakan itu. Seolah tak sadar,, klise-klise kehidupan yang terkumpul telah mengantarkan saya untuk menginjak tahun ke-28 keberadaan saya di muka bumi ini. Seringkali saya bergumam, “Masa sih umurku udah segitu?? Perasaan baru 18 deh!??”. B-)

Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan,, hufffffhh… Waktunya merenung, mengevaluasi, dan membuat pertanyaan kepada diri sendiri. Selama masa kehidupan saya itu, apa saja yang sudah saya dapatkan untuk meningkatkan kualitas hidup yang selanjutnya? Tergolong berhasilkah saya menjalankan peran-peran yang saya lakoni dalam kehidupan: sebagai pribadi, sebagai anak, sebagai kakak, sebagai adik, sebagai bagian dari keluarga besar, sebagai anggota masyarakat, sebagai warga negara,,, sebagai hamba??

Saya mencoba menjawab semua pertanyaan itu sambil berdiri di depan cermin diri yang paling jujur,, kemudian saya tertunduk; malu kepada diri sendiri; malu kepada orang-orang yang menaruh harapan yang tak pernah kecil di pundak saya. Ternyata saya belum meraih apa pun,, karena saya memang belum melakukan apa pun… Keberadaan saya belum cukup berarti bagi dunia, bahkan bagi orang-orang yang paling menyayangi saya sekali pun.

Seandainya saya bertemu Doraemon dan saya diberikan kesempatan untuk memilih salah satu alatnya untuk ia berikan untuk saya,, maka 100% pilihan saya akan jatuh kepada “Laci Mesin Waktu”nya. Kemudian saya akan kumpulkan lagi serpihan waktu yang terlewatkan tanpa makna, memungut kembali kesempatan-kesempatan yang tersia-siakan oleh penundaan.. Hi hi,, mesin waktu,, malah ngayal.com  saya…

Huffthh,, sudahlah.. Im 28 now,, itu jelas,, dan tidak ada yang bisa membuat saya lebih muda atau lebih tua dari ini. The big question is, “Cukupkah “masa kontrak” yang tersisa dengan Sang Pemberi Kehidupan untuk bisa menggapai apa yang belum diraih???” Saya tidak akan menanyakannya pada siapa pun,, karena saya yakin otak manusia paling jenius atau komputer paling mutakhir sekali pun tidak akan bisa mencapai titik di mana mereka bisa menjawab pertanyaan ini. Yang masih memungkinkan untuk dijawab adalah, “Apa yang bisa saya lakukan sekarang dan untuk seterusnya?” Hmmm, saya harap sesuatu yang lebih baik bisa terlahir dari apa yang saya usahakan, cuma itu…